Cermati penggalan cerpen berikut!

Aku menutup kembali pintu lemari pakaian. Isak tangis tertahan masih terdengar dari luar kamar. Tanganku meraih daun pintu, menutup pintu kamar yang terbuka sejengkal. Suara tangisan tinggal lamat-lamat.

Aku berjalan pelan menuju jendela, membukanya, lalu duduk di atas kursi. Pagi ini, langit berwarna kelabu. Sejujurnya, sempat melintas pertanyaan di kepalaku, kenapa aku tidak menangis? Kemudian pikiranku mengembara, menyusuri tiap jengkal peristiwa yang terjadi tiga pekan lalu.

”Kamu belum pernah punya anak. Menikah pun belum. Kalaupun toh punya anak, kamu tidak akan pernah punya pengalaman melahirkan. Kamu, laki-laki.”

Aku menatap wajah di depanku, wajah perempuan yang sangat kukenal.

”Aku, ibunya. Aku yang mengandung dan melahirkannya. Kelak kalau kamu punya anak, kamu akan tahu bagaimana rasanya khawatir yang sesungguhnya.”

Pelayan datang. Ia meletakkan dua buah poci, menuangkan poci berisi kopi di gelasku, beralih kemudian menuangkan poci teh di gelas perempuan di depanku. Pelayan itu lalu pergi setelah mempersilakan kami menikmati hidangannya.

”Apa yang dia lakukan selama seminggu berada di tempatmu?”

”Kami banyak jalan-jalan berdua, menonton film, ke toko buku, ke pantai. Kebetulan aku sedang tidak sibuk. Aku pikir, ia sedang liburan sekolah.”

”Sekolah tidak sedang libur, dan ia tidak pamit kepadaku.”

”Mana aku tahu?”

”Dan kamu tidak memberitahuku.”

”Aku pikir ia pergi dengan seizinmu.”

”Kamu bohong. Kamu tahu kalau ia minggat dari rumah.”

Aku diam. Tidak mau memperpanjang urusan pada bagian ini. Aku datang tidak untuk berdebat. Tiga perempuan masuk ke ruangan ini. Bau harum menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

Perempuan di depanku mendesah. Tangannya meraih tas, mengeluarkan sebungkus rokok, menyulutnya.

”Ia kacau sekali…”

”Ia boleh kacau, tetapi tidak boleh minggat. Ia masih duduk di bangku kelas satu SMA!”

Aku tertawa, ”Kamu tahu, aku minggat pertama kali dari rumah saat kelas satu SMP…”

”Itu kamu. Setiap keluarga punya tata tertib yang tidak boleh dilanggar.”

”Minggat itu memang melanggar tata tertib keluarga. Dan itu pasti ada maksudnya. Tapi aku tidak mau bertengkar. Aku datang jauh-jauh ke sini, hanya untuk mengatakan sesuatu yang kupikir penting menyangkut dia.”

”Apa?”

”Jangan terlalu memaksanya untuk melakukan hal-hal yang tidak disukainya.”

”Hey, kamu hanyalah pamannya. Aku, ibunya!”

”Aku tahu, dan aku tidak sedang ingin merebut apapun darimu.”

”Tapi kamu seperti sedang menceramahiku tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang baik!”

(Dikutip dari cerpen berjudul "Sesaat Sebelum Berangkat" karya Puthut E.A.)

Salah satu watak tokoh perempuan yang menonjol di dalam penggalan cerpen tersebut adalah .... Hal tersebut digambarkan melalui ....

A

penyabar ; tingkah laku tokoh

B

keras kepala ; dialog antar tokoh

C

berhati batu ; jalan pikiran tokoh

D

cantik ; bentuk fisik tokoh

Pembahasan:

Pengarang menggambarkan watak tokoh melalui penokohan. Penokohan ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu secara analitik (langsung) dan dramatik (tidak langsung). Penokohan secara langsung akan secara eksplisit atau tersurat digambarkan pengarang di dalam cerita tersebut. Sedangkan penokohan secara dramatik dapat digambarkan pengarang melalui beberapa cara, antara lain:

  1. Dialog antar tokoh.
  2. Tanggapan atau reaksi dari tokoh lain terhadap tokoh utama.
  3. Pikiran tokoh.
  4. Lingkungan di sekitar tokoh atau penampilan tokoh (rapi, bersih, teratur).                
  5. Bentuk fisik tokoh.
  6. Tingkah laku, tindakan tokoh atau reaksi tokoh terhadap suatu masalah.

Tokoh perempuan yang terdapat di dalam teks tersebut terlibat di dalam pembicaraan yang sudah dilakukannya dengan tokoh utama (tokoh Aku) beberapa minggu yang lalu.

Beberapa percakapan yang menggambarkan watak yang menonjol dari tokoh perempuan di dalam penggalan cerpen tersebut adalah:

”Ia boleh kacau, tetapi tidak boleh minggat. Ia masih duduk di bangku kelas satu SMA!”

”Itu kamu. Setiap keluarga punya tata tertib yang tidak boleh dilanggar.”

”Hey, kamu hanyalah pamannya. Aku, ibunya!”

”Tapi kamu seperti sedang menceramahiku tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang baik!”

Dialog-dialog di atas diucapkan oleh tokoh perempuan tersebut karena ia sangat yakin bahwa ia tidak memiliki kesalahan dan aturannya lah yang paling benar. Sehingga dapat disimpulkan salah satu watak tokoh perempuan yang menonjol di dalam penggalan cerpen tersebut adalah keras kepala. Hal tersebut digambarkan melalui dialog antar tokoh.

Bahasa Indonesia Kelas 9 Menulis Cerita Pendek Identifikasi Unsur Cerita Pendek KD3.5
Ingin latihan soal-soal dengan topik yang sama?

Coba kuis

Ingin cari soal-soal dengan topik yang sama?

Bank Soal


Ayo daftar untuk mendapatkan 43.786 soal latihan!

Daftar sekarang!

Soal Populer Hari Ini