Latihan Kimia Kelas X Reaksi Redoks
Admin Cube
Soal
10
Kesulitan
Reguler
Waktu
Mata Pelajaran
Kimia
Selesai
Benar
0
Salah
0
Dilewati
10

Komposisi Skor

Peringkat

 
1. 6
2. 4
3. 4
4. 4
5. 3
6+. 0
  • Pilgan

    Bilangan oksidasi O pada senyawa peroksida adalah ....

    A

    +2

    B

    -1

    C

    +1

    D

    +

    E

    -2

    Pembahasan:

    Unsur O merupakan unsur dalam golongan VIA sehingga biloksnya -2 kecuali untuk senyawa peroksida, biloks O adalah -1. Contoh senyawa peroksida dimana biloks O adalah -1 yaitu H2O2 (hidrogen peroksida).

  • Pilgan

    Tembaga merupakan salah satu contoh unsur yang dapat memiliki dua tingkat bilangan oksidasi. Berdasarkan hal tersebut, penamaan senyawa CuCl dan CuCl2 berturut-turut adalah ....

    A

    tembaga(I) klorida dan tembaga(II) klorida

    B

    tembaga(I) monoklorida dan tembaga(II) diklorida

    C

    tembaga monoklorida dan tembaga diklorida

    D

    cuprum monoklorida dan cumprum diklorida

    E

    monocuprum klorida dan dicuprum klorida

    Pembahasan:

    Senyawa CuCl dan CuCl2 merupakan jenis senyawa ionik. Penamaan senyawa ionik dapat dibantu dengan pengetahuan bilangan oksidasi dari unsur logam yang terlibat.

    Bilangan oksidasi Cu pada CuCl adalah +1 sedangkan pada CuCl2 adalah +2.

    Penamaan CuCl berdasarkan informasi bilangan oksidasi adalah tembaga(I) klorida.

    Penamaan CuCl2 berdasarkan informasi bilangan oksidasi adalah tembaga(II) klorida.

    “Cumprum” boleh digunakan untuk menggantikan kata “tembaga” namun penunjukkan tingkat oksidasi tidak boleh menggunakan mono sebab tembaga adalah unsur logam. Penggunaan yang tepat adalah angka romawi di dalam tanda kurung yang menunjukkan bilangan oksidasi yang dimiliki tembaga.

    Jadi penamaan CuCl dan CuCl2 yang benar berturut-turut adalah tembaga(I) klorida dan tembaga(II) klorida.

  • Pilgan

    Perhatikan reaksi berikut!

    Cr2O3  2H+  2e-  2CrO  H2O

    Nama senyawa yang mengalami penurunan biloks adalah ….

    A

    kromium(I) monooksida

    B

    kromium(II) oksida

    C

    kromium(III) oksida

    D

    kromium(II) trioksida

    E

    kromium(I) oksida

    Pembahasan:

    Bilangan oksidasi tiap senyawa diberikan pada gambar berikut.

    Dari tabel di atas, dapat terlihat bahwa Cr mengalami penurunan biloks yaitu dari +3 menjadi +2 sehingga senyawa yang mengalami reduksi adalah Cr2O3.

    Penentuan bilangan oksidasi dapat digunakan untuk membantu penamaan senyawa. Maka penamaan yang tepat adalah penggunaan angka romawi dalam kurung yang menunjukkan bilangan oksidasi yang dimiliki kromium. O pada Cr2O3 tidak perlu menggunakan tambahan mono, di, dan tri sebab senyawa tersebut merupakan senyawa ionik.

    Dari penjelasan di atas, penamaan Cr2O3 yang benar adalah kromium(III) oksida.

  • Pilgan

    Penamaan di bawah ini benar, kecuali ....

    A

    mangan(I) oksida

    B

    mangan(II) oksida

    C

    kalium klorat

    D

    kobalt(II) nitrat

    E

    magnesium(I) karbonat

    Pembahasan:

    Pilihan jawaban di atas adalah penamaan yang berkaitan dengan bilangan oksidasi. Dalam aturan tata nama kimia, jika suatu unsur memiliki bilangan oksidasi lebih dari satu, maka penamaannya dilakukan dengan menunjukkan bilangan oksidasinya dengan angka romawi di dalam kurung. Namun, apabila unsur tersebut hanya memiliki satu bilangan oksidasi, maka penulisan dengan angka romawi di dalam kurung tidak perlu dilakukan.

    • Penamaan "magnesium(I) karbonat" salah karena magnesium adalah unsur yang hanya memiliki satu bilangan oksidasi sehingga penulisan tata nama tidak perlu menambahkan keterangan biloks. Penamaan yang benar adalah magnesium karbonat.
    • Penamaan "mangan(I) oksida" dan "mangan(II) oksida" benar karena mangan adalah unsur yang memiliki lebih dari satu bilangan oksidasi sehingga penulisan tata namanya perlu menambahkan keterangan biloks yang dimiliki.
    • Penamaan "kalium klorat" benar karena kalium adalah unsur yang hanya memiliki satu bilangan oksidasi sehingga penulisan tata nama tidak perlu menambahkan keterangan biloks.
    • Penamaan "kobalt(II) nitrat" benar karena kobalt adalah unsur yang memiliki lebih dari satu bilangan oksidasi sehingga penulisan tata namanya perlu menambahkan keterangan biloks yang dimiliki.


    Maka dapat disimpulkan bahwa penaman pada opsi jawaban benar, kecuali magnesium(I) karbonat.

  • Pilgan

    Koefisien yang sesuai untuk mengisi nilai a, b, c, d, dan e pada reaksi reduksi berikut adalah ….

    aCO32- + bH+ + ce- -> dCO2 + eH2O

    A

    1, 2, 0, 1, 1

    B

    2, 2, 1, 2, 1

    C

    1, 2, 1, 1, 1

    D

    2, 2, 0, 2, 1

    E

    1, 1, 1, 1, 1

    Pembahasan:

    Reaksi reduksi adalah reaksi yang mengalami penurunan bilangan oksidasi. Pada reaksi di atas bilangan oksidasi yang berubah adalah pada unsur C. Biloks C pada CO32- dan CO2 berturut-turut adalah +6 dan +4. Reaksi reduksi ini melibatkan penyerapan elektron dan ion sehingga keseimbangan muatan antara sisi kanan dan kiri harus diperhatikan pula.

    Langkah yang harus dilakukan untuk menyetarakan reaksi reduksi:

    1. Perhatikan unsur selain O dan H pada kedua sisi. Jika terdapat perbedaan jumlah, segera setarakan dengan menambahkan koefisien di depan senyawa yang kurang jumlahnya. Pada reaksi tersebut, perhatikan unsur C. Ternyata tidak ada perbedaan jumlah C sebab baik di sisi kanan maupun kiri telah memiliki satu C. Berdasarkan analisis ini, nilai a dan d dapat ditentukan yaitu nilainya 1.
    2. Setelah semua unsur selain O dan H memiliki jumlah yang sama di kedua sisi, selanjutnya perhatikan jumlah unsur O di kedua sisi. Pada sisi kiri, terdapat 3 unsur O yaitu pada ion karbonat sedangkan pada sisi kanan juga telah terdapat 3 unsur O yaitu dua berasal dari karbon dioksida dan satu O berasal dari air. Berdasarkan analisis ini, nilai e dapat ditentukan yaitu 1.
    3. Selanjutnya, perhatikan unsur H dan setarakan jumlah antara sisi kanan dan kiri. Pada sisi kiri, baru terdapat satu unsur H, sedangkan di sisi kanan terdapat dua unsur H yang berasal dari air. Hal ini menyebabkan H pada sisi kiri harus ditambah hingga berjumlah 2, yaitu dengan cara menambahkan koefisien 2 di depan H+. Berdasarkan analisis ini, nilai b dapat diketahui yaitu 2.
    4. Setelah semua unsur setara jumlahnya antara sisi kiri dan kanan, maka selanjutnya adalah menyamakan muatan. Pada sisi kanan, muatan totalnya adalah 0 sebab karbon dioksida dan air tidak bermuatan. Berdasarkan hal ini, maka muatan total di sisi kiri juga harus bernilai 0.


    Dari penyetaraan pada langkah 1-4, kita telah memperoleh reaksi dengan koefisien sebagai berikut.

    CO32- ++ 2H+ ++ 0e- -> CO2 ++ H2O atau dapat dituliskan sebagai CO32- ++ 2H+ \longrightarrow CO2 ++ H2O

    Maka di sisi kiri muatannya adalah -2 (dari ion karbonat) dan +2 (dari H+). Muatan total dari keduanya adalah 0. Hal ini menunjukkan bahwa sisi kiri telah setara muatannya. Maka tidak diperlukan lagi elektron sehingga nilai c adalah 0.

    Kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu koefisien yang sesuai untuk mengisi nilai a, b, c, d, dan e pada reaksi reduksi berikut adalah 1, 2, 0, 1, 1.

  • Pilgan

    Perhatikan reaksi berikut!

    2HOF  H2O  OF2

    Berdasarkan reaksi di atas, yang mengalami disproporsionasi adalah ….

    A

    OF2

    B

    F

    C

    HOF

    D

    O

    E

    H2O

    Pembahasan:

    Reaksi disproporsionasi adalah reaksi di mana satu unsur mengalami reaksi oksidasi sekaligus reaksi reduksi. Untuk menentukan hal itu, maka kita harus menentukan biloks masing-masing unsur kemudian melihat unsur manakah yang mengalami kenaikan atau penurunan biloks.


    HOF

    Karena HOF tidak memiliki muatan, maka nilai penjumlahan biloks unsur penyusunnya adalah 0.

    Unsur H umumnya memiliki bilangan oksidasi +1. Unsur F termasuk unsur dalam golongan VIIA, sehingga memiliki biloks -1. Berdasarkan informasi tersebut, biloks O dapat ditentukan.

    Biloks H ++ Biloks O ++ Biloks F == 0

    +1 ++ Biloks O ++ (-1) == 0

    Biloks O ++ 0 == 0

    Biloks O == 0


    H2O

    Karena H2O tidak memiliki muatan, maka nilai penjumlahan biloks unsur penyusunnya adalah 0.

    Unsur H umumnya memiliki bilangan oksidasi +1.

    Biloks O ++ 2 ×\times Biloks H == 0

    Biloks O ++ 2(+1) == 0

    Biloks O ++ 2 == 0

    Biloks O == -2


    OF2

    Karena oksigen difluorida tidak memiliki muatan, maka nilai penjumlahan biloks unsur penyusunnya adalah 0.

    Pada senyawa oksigen difluorida, terdapat pengecualian untuk biloks O di mana bukan sama dengan -2. Hal ini karena unsur F lebih elektronegatif daripada O sehingga biloks F yang bernilai negatif, yaitu -1 (golongan VIIA).

    Biloks O ++ 2 ×\times Biloks F == 0

    Biloks O ++ 2(-1) == 0

    Biloks O ++ (-2) == 0

    Biloks O == +2


    Setelah proses penentuan biloks di atas, perhatikan bagan berikut!


    Berdasarkan reaksi di atas, yang mengalami disproporsionasi adalah O.

  • Pilgan

    Reaksi respirasi merupakan salah satu reaksi yang menerapkan konsep reaksi redoks dimana proses ini menghasilkan karbondioksida dan air dengan cara pembakaran glukosa menggunakan oksigen. Reaksi kimia yang terjadi pada saat respirasi merupakan kebalikan dari fotosintesis. Perubahan yang terjadi jika reaksi respirasi diubah menjadi reaksi fotosintesis adalah ....

    A

    oksidator berubah dari O2 menjadi CO2

    B

    hanya terjadi proses oksidasi

    C

    reduktor berubah dari glukosa menjadi air

    D

    reduksi dan oksidasi tidak dapat berlangsung

    E

    reduksi tidak lagi berlangsung

    Pembahasan:

    Reaksi respirasi merupakan salah satu jenis reaksi redoks yang terjadi di alam. Reaksi ini merupakan kebalikan dari reaksi fotosintesis dan dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Reaksi ini merupakan pembakaran glukosa yang memerlukan oksigen dan akan menghasilkan karbon dioksida, air, dan energi.

    Reaksi respirasi

    C6H12O6 ++ 6O2 \longrightarrow 6CO2 ++ 6H2O ++ energi

    Penentuan biloks ditunjukkan pada gambar berikut.

    Reaksi fotosintesis sebagai reaksi balik dari respirasi akan mereaksikan karbon dioksida dan air dengan bantuan energi matahari untuk menghasilkan glukosa dan oksigen.

    Reaksi fotosintesis dituliskan sebagai berikut.

    6CO2 ++ 6H2O ++ energi \longrightarrow C6H12O6 ++ 6O2

    Setelah dibandingkan, terjadi perbedaan pada oksidator dan reduktor.

    • Oksidator pada reaksi respirasi adalah oksigen, sedangkan pada reaksi fotosintesis adalah karbon dioksida.
    • Reduktor pada reaksi respirasi adalah glukosa, sedangkan pada reaksi fotosintesis adalah air.

    Maka perubahan yang terjadi jika reaksi respirasi diubah menjadi reaksi fotosintesis adalah oksidator berubah dari O2 menjadi CO2.

  • Pilgan

    Reaksi redoks melibatkan terjadinya ....

    A

    kenaikan dan penurunan bilangan reduksi

    B

    penggunaan elektron bersama

    C

    kenaikan dan penurunan bilangan oksidasi

    D

    penambahan hidrogen sebagai produk

    E

    penambahan oksigen sebagai produk

    Pembahasan:

    Reaksi redoks adalah reaksi reduksi oksidasi yang terjadi secara bersamaan. Reaksi redoks ini dapat diketahui dari perubahan bilangan oksidasi. Peningkatan bilangan oksidasi terjadi pada reaksi oksidasi ,sedangkan penurunan bilangan oksidasi terjadi pada reaksi reduksi. Kedua reaksi ini harus terjadi secara bersamaan agar suatu reaksi dapat dikatakan mengalami reaksi redoks.

    Sehingga dapat disimpulkan bahwa reaksi redoks melibatkan terjadinya kenaikan dan penurunan bilangan oksidasi.


    *Penggunaan elektron bersama merupakan penyebab terjadinya ikatan kovalen.

    *Penambahan oksigen sebagai produk terjadi pada proses oksidasi air, sedangkan penambahan hidrogen sebagai produk terjadi pada proses reduksi air. Pembentukan ini hanya terjadi pada salah satu reaksi saja sehingga tidak dapat menunjukkan terjadinya reaksi redoks.

  • Pilgan

    Perhatikan reaksi di bawah ini!

    2Na2S2O3  Br2  2NaBr  Na2S4O6

    Penamaan yang benar untuk senyawa hasil oksidasi adalah ....

    A

    bromin

    B

    natrium tetrationat

    C

    natrium tiosulfat

    D

    natrium bromida

    E

    natrium(I) tiosulfat

    Pembahasan:

    Dalam reaksi reduksi dan oksidasi terdapat beberapa istilah yaitu:

    1. Oksidator: senyawa yang menyebabkan senyawa lain mengalami reaksi oksidasi dan dirinya sendiri mengalami reaksi reduksi.
    2. Reduktor: senyawa yang menyebabkan senyawa lain mengalami reaksi reduksi dan dirinya sendiri mengalami reaksi oksidasi.
    3. Hasil oksidasi: senyawa hasil reaksi oksidasi yaitu berada di sisi produk dan mengandung unsur yang mengalami reaksi oksidasi/kenaikan biloks.
    4. Hasil reduksi: senyawa hasil reaksi reduksi yaitu berada di sisi produk dan mengandung unsur yang mengalami reaksi reduksi/penurunan biloks.


    Na2S2O3

    Karena Na2S2O3 tidak memiliki muatan, maka nilai penjumlahan biloks unsur penyusunnya adalah 0.

    Unsur Na termasuk unsur dari golongan IA, sehingga memiliki biloks +1. Unsur O berasal dari golongan VIA, sehingga memiliki biloks -2. Dengan informasi tersebut maka biloks S dapat diketahui.

    2 ×\times Biloks Na ++ 2 ×\times Biloks S ++ 3 ×\times Biloks O == 0

    2(+1) ++ 2 ×\times Biloks S ++ 3(-2) == 0

    +2 ++ 2 ×\times Biloks S ++ (-6) == 0

    2 ×\times Biloks S ++ (-4) == 0

    2 ×\times Biloks S == +4

    Biloks S == +2


    Br2

    Bilangan oksidasi Br pada Br2 adalah 0 sebab Br2 termasuk unsur bebas.


    NaBr

    Karena NaBr tidak memiliki muatan, maka nilai penjumlahan biloks unsur penyusunnya adalah 0.

    Unsur Na termasuk dalam golongan IA, sehingga memiliki biloks +1.

    Biloks Na ++ Biloks Br == 0

    +1 ++ Biloks Br == 0

    Biloks Br == -1


    Na2S4O6

    Karena Na2S4O6 tidak memiliki muatan, maka nilai penjumlahan biloks unsur penyusunnya adalah 0.

    Unsur Na termasuk unsur dari golongan IA, sehingga memiliki biloks +1. Unsur O berasal dari golongan VIA, sehingga memiliki biloks -2. Dengan informasi tersebut maka biloks S dapat diketahui.

    2 ×\times Biloks Na ++ 4 ×\times Biloks S ++ 6 ×\times Biloks O == 0

    2(+1) ++ 4 ×\times Biloks S ++ 6(-2) == 0

    +2 ++ 4 ×\times Biloks S ++ (-12) == 0

    4 ×\times Biloks S ++ (-10) == 0

    4 ×\times Biloks S == +10

    Biloks S == +2,5


    Berikut disajikan gambar yang merangkum hasil dari penentuan biloks di atas.


    Reduktor = Na2S2O3 = natrium tiosulfat

    Oksidator = Br2 = bromin

    Hasil reduksi = NaBr = natrium bromida

    Hasil oksidasi = Na2S4O6 = natrium tetrationat

    Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa hasil dari oksidasi adalah Na2S4O6 dengan penamaan yang sesuai adalah natrium tetrationat.

  • Pilgan

    Rumus kimia untuk merkuri(I) nitrat dan merkuri(II) nitrat adalah ....

    A

    Cu(NO3)2 dan CuNO3

    B

    Pb(NO3)2 dan PbNO3

    C

    HgNO3 dan Hg(NO3)2

    D

    Hg(NO3)2 dan HgNO3

    E

    PbNO3 dan Pb(NO3)2

    Pembahasan:

    Penamaan menggunakan angka romawi menunjukkan bilangan oksidasi yang dimiliki oleh unsur.

    Merkuri(I) nitrat artinya merkuri dengan biloks +1 berikatan dengan anion nitrat (NO3-) dengan jumlah biloks -1, maka rumus kimia yang benar adalah HgNO3.

    Merkuri(II) nitrat artinya merkuri dengan biloks +2 berikatan dengan 2 anion nitrat (NO3-) dengan jumlah biloks -2, maka rumus kimia yang benar adalah Hg(NO3)2.

    Jadi, rumus kimia untuk merkuri(I) nitrat dan merkuri(II) nitrat adalah HgNO3 dan Hg(NO3)2.

    

    CuNO3: tembaga(I) nitrat

    Cu(NO3)2: tembaga(II) nitrat

    PbNO3: timbal(I) nitrat

    Pb(NO3)2: timbal(II) nitrat


Tidak Ada Komentar

Ayo Daftar Sekarang!

Dan dapatkan akses ke seluruh 329.542 soal dengan berbagai tingkat kesulitan!

Daftar

Masih ada yang belum ngerti juga? Tanya ke kak tutor aja! Caranya, daftar layanan premium dan pilih paketnya.