Cermati penggalan cerpen berikut!

Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orang tua justru tergadaikan.

”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”

”Ulahnya?” dia mengangguk.

”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.

”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.

Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam cokelat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.

(Dikutip dari cerpen berjudul "Seragam". Sumber: kompas.com)

Perhatikan kalimat yang dicetak miring tersebut!

Mengapa beban berat berada di pundak sahabat tokoh "saya"?

A

Karena ia memiliki seorang kakak yang hobi membuat masalah bagi keluarganya bahkan setelah orang tua mereka meninggal.

B

Karena usaha kakaknya yang bangkrut bermodalkan sertifikat tanah dan rumah orang tua mereka yang digadaikan

C

Karena ia adalah jaksa untuk mengeksekusi pengosongan tanah dan rumah sahabatnya padahal sahabatnya adalah yang membantu ia sejak masih sekolah dasar.

D

Karena ia telah mengajarkan keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar dapat muncul dari sebuah persahabatan yang tulus.

Pembahasan:

Untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat kita cermati paragraf keempat.

”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.

Diceritakan bahwa sahabat tokoh saya tersebut memiliki seorang kakak yang sejak dulu menyusahkannya dan orang tua mereka. Kakak dari tokoh tersebut menggunakan sertifikat rumah dan tanah untuk modal usahanya. Akan tetapi, usaha kakak tokoh tersebut gagal sehingga sertifikat rumah dan tanah tersebut terancam disita dan hilang.

Maka dari itu, beban berat berada di pundak sahabat tokoh "saya"

karena usaha kakaknya yang bangkrut bermodalkan sertifikat tanah dan rumah orang tua mereka yang digadaikan.

Bahasa Indonesia Kelas 9 Menulis Cerita Pendek Identifikasi Unsur Cerita Pendek KD3.5
Ingin latihan soal-soal dengan topik yang sama?

Coba kuis

Ingin cari soal-soal dengan topik yang sama?

Bank Soal


Ayo daftar untuk mendapatkan 43.666 soal latihan!

Daftar sekarang!

Soal Populer Hari Ini