Latihan Bahasa Indonesia Kelas IX Menulis Cerita Pendek
# 9
Pilgan

Bacalah cerpen ini!

Dalam sebuah perjalanan dari Urstein ke Ljubljana, saya dan fasilitator perjalanan beberapa kali mengalami kesalahan (naik) kereta. Dari terdampar di Sletzhal yang dingin, menunggu kereta hingga satu jam lebih di Bischofshofen, hingga akhirnya terdampar di Villach, sebuah country side Austria yang indah.

Ketika mengalami “ketersesatan-ketersesatan” itu, saya mengutuk-ngutuk keadaan, kelengahan saya dan fasilitator, hingga hal-hal yang luput kami antisipasi—padahal sejumlah persiapan rasanya sudah sangat matang.

Berhenti sampai di sana? Tidak? Saya harus berurusan dengan rekan perjalanan lain yang luar biasa menjengkelkan, ditambah dengan tragedi-tragedi yang hanya menimpa saya seorang. Fyuh! Residensi macam apa ini!

Dalam perjalanan pulang, sepanjang penerbangan Paris-Saudi Arabia-Jakarta, saya masih juga memikirkan, bagaimana bisa perjalanan yang harusnya menyenangkan itu, harus dilalui dengan ketakterdugaan yang meletup di sepanjang perjalanan. Saya seperti menyia-nyiakan sebulan untuk sebuah urusan yang hanya memberikan saya keterpurukan yang susah dilukiskan.

Namun apa yang terjadi, sepulang dari perjalanan sebulan di Benua Biru itu? Jurnal perjalanan yang rutin saya tulis setiap hari dalam lawatan itu, ketika dibaca ulang, justru menghadirkan sebuah cerita perjalanan yang potensial menjadi novel yang menarik karena berisi perjalanan-perjalanan yang tidak turistik! Tiba-tiba saya merindukan “keterpurukan-keterpurukan itu”. Hari ke-30 Ramadan kemarin, saya pun merampungkan draf novel setebal 616 halaman tersebut. Tanpa semua kekacauan itu, saya tidak akan menghasilkan karya!

(Cerpen berjudul " Gembira itu Fana, Sakit itu Sementara" karya Benny Arnas)

Ikhtisar cerpen tersebut adalah ...

A

Karya yang dihasilkan oleh tokoh saya adalah sebuah cerpen perjalanan di mana ia mengarungi Benua Amerika. Ia sangat terkesan dengan kesialan yang menimpanya selama perjalanan sebulannya. Awalnya ia mengira ia hanya menyia-nyiakan waktunya, namun ternyata ia mampu menghasilkan sebuah karya yang luar biasa menarik.

B

Tokoh saya menyia-nyiakan sebulannya dalam perjalanan mengarungi Benua Biru tersebut akibat kelalaian fasilitatornya hingga teman perjalanannya yang membuatnya semakin terpuruk. Ia pernah terdampar di sebuah country side yang sangat buruk dan ia tidak senang dengan perjalanannya sepenuhnya.

C

Tokoh saya dalam cerpen tersebut mengalami keterpurukan-keterpurukan dalam perjalanannya ke Ljubljana, mulai dari salah naik kereta, terdampar di suatu country side, hingga mendapatkan teman perjalanan yang tidak mengenakkan. Meski begitu, ia berhasil mengubah keterpurukan-keterpurukannya menjadi sebuah draf novel dan menjadikan perjalanannya sebagai salah satu pengalamannya yang membekas.

D

Tokoh saya sangat tidak menyukai perjalannya dari Urstein ke Ljubljana. Ia mendapati bahwa kesialan-kesialan yang menimpanya merupakan hasil dari ketidakcermatannya dan fasilitator karena luput memperkirakan suatu situasi. Beberapa kesialannya dituliskan di dalam sebuah novel terpisah yang sudah diterbitkan.