Bacalah cerpen ini!
Dalam sebuah perjalanan dari Urstein ke Ljubljana, saya dan fasilitator perjalanan beberapa kali mengalami kesalahan (naik) kereta. Dari terdampar di Sletzhal yang dingin, menunggu kereta hingga satu jam lebih di Bischofshofen, hingga akhirnya terdampar di Villach, sebuah country side Austria yang indah.
Ketika mengalami “ketersesatan-ketersesatan” itu, saya mengutuk-ngutuk keadaan, kelengahan saya dan fasilitator, hingga hal-hal yang luput kami antisipasi—padahal sejumlah persiapan rasanya sudah sangat matang.
Berhenti sampai di sana? Tidak? Saya harus berurusan dengan rekan perjalanan lain yang luar biasa menjengkelkan, ditambah dengan tragedi-tragedi yang hanya menimpa saya seorang. Fyuh! Residensi macam apa ini!
Dalam perjalanan pulang, sepanjang penerbangan Paris-Saudi Arabia-Jakarta, saya masih juga memikirkan, bagaimana bisa perjalanan yang harusnya menyenangkan itu, harus dilalui dengan ketakterdugaan yang meletup di sepanjang perjalanan. Saya seperti menyia-nyiakan sebulan untuk sebuah urusan yang hanya memberikan saya keterpurukan yang susah dilukiskan.
Namun apa yang terjadi, sepulang dari perjalanan sebulan di Benua Biru itu? Jurnal perjalanan yang rutin saya tulis setiap hari dalam lawatan itu, ketika dibaca ulang, justru menghadirkan sebuah cerita perjalanan yang potensial menjadi novel yang menarik karena berisi perjalanan-perjalanan yang tidak turistik! Tiba-tiba saya merindukan “keterpurukan-keterpurukan itu”. Hari ke-30 Ramadan kemarin, saya pun merampungkan draf novel setebal 616 halaman tersebut. Tanpa semua kekacauan itu, saya tidak akan menghasilkan karya!
(Cerpen berjudul " Gembira itu Fana, Sakit itu Sementara" karya Benny Arnas)
Ikhtisar cerpen tersebut adalah ...