Latihan Bahasa Indonesia Kelas IX Menulis Cerita Pendek
# 7
Pilgan

Cermati penggalan cerpen di bawah ini!

”Sampai kapan pun ibu akan tinggal di sini. Ibu ingin selalu mengenang ayahmu di rumah ini. Tak mungkin ibu meninggalkan tempat ini. Jika pergi dari sini berarti ibu meninggalkan ayahmu. Tak mungkin. Makna ayahmu bagi ibu terlalu dalam, Nak.” Begitu jawaban ibu setiap kali aku mengajaknya untuk tinggal bersama. Mas Budi juga selalu khawatir pada ibu dan mendesakku untuk mengajaknya tinggal bersama kami. Namun, ibu selalu menolaknya. Aku pun mengalah, setiap aku ada keperluan ke kota di mana rumah ibu dekat dengan kota itu, aku menyempatkan diri mampir ke rumah ibu, tentunya sudah minta izin pada Mas Budi. Dan, Mas Budi pun mengizinkan dan mendukung penuh apa yang aku lakukan, kecuali sikapku pada ibu yang belum bisa berubah: aku masih memendam bara di hati pada ibu. Awalnya aku berniat akan bersikap ramah, tetapi ketika bertatap muka dengannya, aku tak mampu melakukannya.

Aku selalu teringat ketika ibu memaki-makiku tanpa sebab; menghukumku ketika telat pulang karena mengerjakan PR secara berkelompok di rumah teman. Jika ada ayah pun ibu kerap membentak dan menghukumku, apalagi jika tidak ada ayah. Misalnya ketika tak sengaja aku memecahkan piring yang baru saja kucuci. Sumpah serapah ibu seperti peluru yang diberondongkan dari sebuah senapan ke arahku.

(Sumber: bebas.kompas.id)

Ringkasan yang tepat dari penggalan cerpen di atas adalah ...

A

Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghilangkan rasa sakit hatiku terhadap ibuku sendiri. Luka yang ditimbulkan akibat perlakuan ibu sangat dalam dan membekas sehingga aku bahkan tidak sudi menjenguk ibuku di rumah masa kecilku.

B

Ibu merupakan sosok istri yang tidak bisa lepas dari bayang-bayang almarhum suami, yaitu ayahku. Aku dan suamiku mengkhawatirkan kesehatan ibu yang semakin memburuk, namun ibu tetap kekeh ingin tetap tinggal di rumah itu. Aku menyayangi ibuku terlepas dari kejadian tidak enak di masa lalu.

C

Aku sudah sering mengajak ibu untuk tinggal bersamaku dan suamiku, namun ibu selalu menolaknya dengan alasan masih ingin mengenang ayah di rumah ini selamanya. Meski aku memedulikan ibu, namun bara di hatiku karena perlakuan ibu di masa lalu masih menyala setiap aku melihat ibu.

D

Mas Budi dan aku sudah berulang kali mencoba membujuk ibu untuk tinggal bersama kami, namun sia-sia. Bahkan Mas Budi sering menjenguk ibu setiap ada keperluan pekerjaan di kota yang dekat dari rumah ibu, namun ibu tetap menolak tinggal bersama kami karena ibu masih terbayang sosok almarhum ayah.