Cermati kutipan novel di bawah ini!
Namun, baru setengah jalan. Oh, Ibu, ada paku payung tergeletak di tengah-tengah bus. Aku tak tahu bagaimana paku payung tersebut ada di situ. Bagian tajamnya menghadap ke atas begitu saja, dan tanpa ampun seketika menghunjam kakiku yang sehelai pun tak beralas saat melewatinya.
Aku mengaduh.
"Ada apa, Kak?" Dede bertanya sambil menguap menahan kantuk. Adikku juga bertelanjang kaki.
Aku menahan tangis. Jongkok. Meletakkan kantong plastik yang baru berisi empat-lima recehan. Membalik telapak kaki kananku. Paku payung itu cukup besar. Sempurna tertanam di telapak kakiku. Tanganku gemetar mencabutnya. Perih.
Darah muncrat.
Orang-orang di sekitar hanya satu-dua yang memperhatikan. Menatap sambil menyeringai datar tak peduli. Menatap sejenak lantas tidur kembali. Dede langsung berseru ngeri. Mundur. Darah yang keluar cukup banyak. Aku mendadak takut melihatnya, terus mengaduh sakit. Pedih.
Saat itulah seseorang itu menegur.
Ya Tuhan! Seseorang itu menegurku.
Aku ingat sekali saat menatap mukanya untuk pertama kali. Dia tersenyum hangat menentramkan. Mukanya amat menyenangkan. Muka yang memesona oleh cahaya kebaikan. Kakak itu menggunakan kemeja lengan panjang berwarna biru, rapi seperti penumpang bus lain yang pulang kerja. Umurnya paling juga baru dua puluh tahunan.
"Jangan ditekan-tekan," dia menegurku yang justru panik memencet-mencet telapak kaki.
(Dikutip dari novel berjudul Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin oleh Tere Liye)
Nilai yang terkandung di dalam kutipan novel tersebut adalah ....