Latihan AKM Literasi Kelas II Teks Sastra
# 7
Pilgan

Upacara Ngaben: Asal-Usul, Tujuan, Prosesi, dan Macamnya

UPACARA NGABEN DALAM AGAMA HINDU | Bagian Kesejahteraan Rakyat

(Sumber gambar: kesrasetda.bulelengkab.go.id)

Pagi itu, saya dan keluarga pergi ke Bali untuk melihat upacara ngaben karena ada salah satu kerabat kami yang baru saja meninggal kemarin. Kami sekeluarga berangkat menggunakan pesawat dari Jakarta.

Sesampainya di sana, kami langsung menuju ke tempat upacara ngaben dilaksanakan. Salah satu paman saya menjelaskan tentang ngaben. Ia mengatakan bahwa ngaben adalah upacara prosesi pembakaran mayat atau kremasi yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Upacara ngaben juga dikenal sebagai pitra yadyna, pelebon, atau upacara kremasi. Ngaben sendiri dilakukan untuk melepaskan jiwa orang yang sudah meninggal dunia agar dapat memasuki alam atas, yaitu tempat ia dapat menunggu untuk dilahirkan kembali atau reinkarnasi.

Selanjutnya, paman menjelaskan bahwa ngaben berasal dari kata beya yang berarti 'bekal'. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa ngaben berasal dari kata ngabu yang berarti 'menjadi abu'. Menurut keyakinan umat Hindu di Bali, manusia terdiri dari badan kasar, badan halus, dan karma. Adapun badan kasar manusia dibentuk dari lima unsur yang disebut panca maha bhuta, yakni pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakkan oleh atma (roh).

Kemudian saya bertanya pada paman, mengapa upacara ngaben sangat penting bagi orang Bali. Paman menjelaskan bahwa bagi masyarakat Bali, ngaben merupakan peristiwa yang sangat penting karena dengan pengabenan, keluarga dapat membebaskan arwah orang yang telah meninggal dari ikatan-ikatan duniawi menuju surga dan menunggu reinkarnasi.

Menurut masyarakat Bali, ngaben memilki beberapa tujuan. Salah satunya adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu keduniawian. Caranya dengan membakar jenazah, lalu menghanyutkan abunya ke sungai atau laut. Dengan begitu, roh orang yang meninggal dipercaya bisa bebas dari belenggu keduniawian sehingga mudah kembali kepada Tuhan. Selain itu, membakar jenazah juga merupakan rangkaian upacara untuk mengembalikan segala unsur panca maha bhuta (5 unsur pembangun badan kasar manusia) kepada asalnya masing-masing. Hal ini dilakukan agar tidak menghalangi jalan roh menuju surga. Tujuan lainnya, upacara ini sebagai simbolisasi bahwa pihak keluarga telah ikhlas dan merelakan kepergian yang bersangkutan.

Paman mengatakan bahwa proses upacara ngaben berlangsung cukup panjang. Pertama, dimulai dengan ngulapin, yakni pihak keluarga melakukan ritual permohonan izin kepada Dewi Surga yang merupakan sakti dari Dewa Siwa. Selanjutnya, dilakukan upacara meseh lawang, yakni upacara yang bertujuan untuk memulihkan cacat atau kerusakan jenazah yang dilakukan secara simbolis. Berikutnya adalah upacara mesiram atau mabersih, yaitu memandikan jenazah yang terkadang hanya berupa tulang-belulang. Lalu, memasuki tahap upacara ngaskara (yakni upacara penyucian jiwa tahap awal), yang kemudian dilanjutkan dengan nerpana, yakni persembahan sesajen kepada jiwa yang telah meninggal. Puncak dari prosesi ngaben adalah ngeseng sawa, yakni pembakaran jenazah yang dilakukan di setra atau kuburan.

Saya bertanya pada paman apakah upacara ngaben hanya selesai sampai di situ saja. Paman mengatakan bahwa upacara ngaben belum selesai sampai di situ. Menurutnya, usai jasad dibakar, dilakukan nuduk galih. Saat nuduk galih, keluarga mengumpulkan sisa-sisa tulang (abu jenazah) setelah pembakaran mayat. Berikutnya, prosesi terahir adalah nganyut, yaitu menghanyutkan abu jenazah ke laut. Hal ini sebagai simbolis pengembalian unsur air dan bersatunya kembali sang jiwa dengan alam.

Selain prosesnya yang terbilang panjang, ngaben juga memiliki banyak jenis, di antaranya ngaben sama wedana, ngaben asri wedana, swasta, ngelungah, dan warak kruron. Ngaben sama wedana adalah upacara ngaben yang melibatkan jenazah yang masih utuh. Asti wedana adalah upacara ngaben yang melibatkan kerangka jenazah yang pernah dikubur. Swasta adalah upacara ngaben tanpa memperlihatkan jenazah maupun kerangka mayat. Hal ini dilakukan karena alasan jenazah tidak ditemukan atau berada di tempat yang jauh. Ngelungah adalah upacara ngaben untuk anak yang belum tanggal gigi. Terakhir, warak kruron adalah upacara ngaben yang dilakukan untuk jenazah yang masih bayi.

Setelah berbincang-bincang dengan paman, saya dan seluruh keluarga bergegas menuju ke tempat pengabenan karena upacara ngaben akan segera dimulai.

(Sumber: kompas.com dengan penyesuaian)

Upacara prosesi pembakaran mayat atau kremasi yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali adalah ... ngaben.

A

tujuan

B

pengertian

C

manfaat

D

dampak