Perkembangan PLTN di Indonesia ditunjukkan salah satunya dengan rencana pembangunan PLTN Gunung Muria sejak 1972. Pemerintah Indonesia melalui badan tenaga atom nasional (BATAN) membentuk komisi persiapan pembangunan PLTN untuk merancang regulasi PLTN. Indonesia juga memiliki dua tambang sebagai sumber cadangan uranium yaitu di Remaja-Hitam dan Rirang-Tanah Merah. Secara prospek, PLTN merupakan salah satu pembangkit yang membutuhkan modal awal paling besar namun setelah terbangun biaya pembangkitan listriknya sangat murah dan efisien. Modal awal yang besar ini bukan lagi menjadi masalah bagi negara Indonesia modern saat ini, tapi keberadaan Indonesia di cincin api pasifik rentan terkena bencana alam sehingga pembangunan PLTN dikhawatirkan akan membawa bencana radioaktif yang besar apabila tidak dipersiapkan dengan baik.
Jadi, kendala utama yang dihadapi Indonesia dalam membangun PLTN adalah Indonesia berada di daerah cincin api pasifik sehingga rentan terkena bencana alam, menjadikan PLTN sangat berisiko.